Berburu takjil merupakan kebiasaan yang dilakukan di bulan suci ramadhan, biasanya kita mencari makanan ringan seperti lontong, gorengan pisang, bakwan, tahu , atau kolak yang dijajakan pedagang dadakan di pinggir trotoar jalan. Makanan ringan ini dihidangkan sebagai makanan pembuka bersama keluarga setelah menjalankan ibadah puasa seharian.
Istilah Takjil berasal dari kata ajila dalam Bahasa arab memiliki arti menyegerakan, sehingga takjil bermakna perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Dalam teknisnya ada panduan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam mengawali berbuka puasa, seperti berbukalah dengan yang manis, atau kebiasaan Nabi adalah memakan buah kurma. Bagi nabi - yang memiliki kepribadian sederhana - membatalkan puasa dengan segelas air dan beberapa biji kurma sudah lebih dari cukup, tetapi berbeda degan masyarakat Indonesia menu itu sepertinya kurang nendang dan mengenyangkan.
Salah satu menu yang mengenyangkan dan menjadi “Wajib” ada sebagai hidangan buka puasa adalah panganan lontong. Philosophy lontong ini tentunya tidak terlepas dari masyarakat kita yang ingin praktis mencari makanan ringan mirip makanan pokok, mudah dibawa dan bisa menyatu dengan makanan lain, seperti lontong dengan bakwan goreng dan sambal kacang pedas yang dipadukan dalam “irama mulut” yang menciptakan “nada – nada” sensasi nikmat yang tak terbilang.
Saking populernya lontong sebagai panganan yang paling dicari saat berbuka puasa, membuat beberapa candaan seperti ungkapan “tidak pas kalo tidak ada lontong”, “teman makan bakwan ya lontong”, apapun ungkapan itu menunjukkan bahwa panganan lontong memiliki positioning unik tersendiri dibenak konsumen, yang mencitrakan panganan lontong sebagai share of mind (produk dikenal) dan share of heart (produk yang disukai).
Sejarah panganan lontong - makanan yang terbuat dari beras berbalut daun pisang berisi oncom, atau kentang dan sayuran - tidak terdapat Riwayat yang sahih siapa yang pertama kali mempopulerkan makanan ini, hanya masyarakat jawa saja yang secara spesifik menyebutkan bahwa sunan kali jaga lah yang pertama kali meng create, membranding dan mendistribusikan sehingga terkenal sampai sekarang.
Terlepas “kontroversi “ siapa yang menciptakan dan pemilik hak paten dari panganan lontong ini, ternyata lontong telah menjelma menjadi produk kebanggaan, makanan lokal yang sudah sekian lama bertahan hingga sekarang yang telah menperkaya khazanah kuliner di tanah air, dan juga sensasi nikmat yang menciptakan nada – nada endos markendos dul dul makedul lugas Ncess presenter “bikin laper” trans TV.
(Selamat menikmati Lontong ya, jangan lupa bakwan dan sambel kacangnya Hehehe……)
Comments
Post a Comment