“Kakek…Nenek…”
Demikian teriakan anak - anak dengan riang dan gembira setibanya di halaman rumah yang asri penuh dengan pepohonan yang rindang dan kolam ikan yang beriak – riak karena banyak ikan nilanya. Suara berat dan diselingi tertawa kecil menghiasi bibir orang tua yang menyambut dengan hangat kami sekeluarga. “Ya.. kami mudik tahun ini untuk merayakan hari lebaran yang penuh dengan kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa di bulan ramadhan.
Perayaan lebaran sebenarnnya bukan hal baru bagi umat muslim di Indonesia. Snouck hurgronje dalam suratnya 20 April 1904 kepada pemerintah Belanda menuliskan “Dimana – mana perayaan pesta ini disertai dengan hidangan makanan khusus, saling bertandang antar kerabat dan pembelian pakaian baru serta bentuk hiburan lainnya.” Perayaan ini terus berlanjut pada masa kini, yang membedakan dengan situasi sekarang adalah adanya tradisi mudik. Tradisi ini mulai muncul disaat pemerintahan Suharto berkuasa, dimana perekonomian terpusat di kota – kota dan banyaknya penduduk luar daerah yang mengadu nasib di kota – kota besar di Indonesia.
Mudik atau dalam bahasa jawanya “mulih dilik” yang artinya pulang sebentar merupakan momen yang luar biasa. Bagi kebanyakan orang mudik merupakan hari dimana bisa bertemu kangen dengan orang tua dan saudara –saudara tercinta, saling bersenda gurau, makan bersama dan bercerita suka duka berjuang hidup melawan kerasnya ibu kota.
Bagi saya mudik bukan sekedar melepas rindu keluarga, tetapi sebuah perjalanan observasi mengamati perkembangan bisnis di daerah yang saya lalui. Observasi secara sederhana adalah proses aktifitas mengamati atau melihat objek tertentu. Dalam market research, observasi punya peranan penting karena bisa melihat prilaku konsumen, trend iklan dan trend bisnis dan lain – lain yang sedang berkembang saat ini disuatu daerah. Misal trend produk es cream mixue, minuman janji jiwa, kopi kenangan, menjamurnya café –café, … dan lain sebagainya.
Kemampuan observasi harusnya menjadi bagian terpenting dalam aktifitas sehari - hari, selain mengasah kemampuan analisa, juga bisa memperkaya kemampuan membaca situasi teritorial disekitar kita, misal berapa banyak penjual fried chicken, gorengan, pecel lele, mie ayam, bakso dan usaha lain – lain disepanjang jalan menuju kediaman kita, karena bisa jadi ada bentuk usaha yang sangat dibutuhkan konsumen tetapi belum ada yang memulainya, “nah ini tentunya bisa menjadi peluang bisnis buat menambah asap dapur kita.”
Jadi dari sini sudah paham ya begitu banyak manfaat obervasi ini, bahkan bila ada waktu luang dan lagi “bête bin gabut”, kita pun bisa melakukan observasi untuk menghitung berapa banyak “polisi tidur” di jalan, menghitung spanduk caleg yang itu – itu saja, dan menghitung berapa banyak tiang listrik, pohon - pohon dan tembok – tembok rumah yang jadi “korban” dari agresifnya tim sukses dalam “menjual’ para caleg jagoannya. hehehe
Selamat melakukan observasi para pejuang.. sudah berapa banyak bendera partai pavorit yang terpasang, dan bagi para caleg selamat menghitung spanduk anda apakah sudah sesuai antara biaya yang dikeluarkan dan realisasinya karena saya khawatir dana anda ditilep tim sukses karena anda “pelit bin medit” dalam menghargai jasa tim sukses dan relawan anda hehehe…
Comments
Post a Comment