Semangat pagi para pecinta olahraga, pernahkah anda membaca berita seorang pelari muda Bernama Ariana Luterman atlet marathon asal Amerika yang bikin heboh dunia, karena melakukan hal yang menyentuh hati penonton dikompetisi Dallas Marathon di Desember tahun 2017 silam.
Walaupun sudah lama peristiwa ini terjadi, tetapi beritanya selalu membuat hati saya tersentuh saja , kenapa? karena Ariana luterman melakukan tindakan luar biasa heroik dengan menolong lawan dibelakangnya yaitu Chandker Self setelah terjatuh dan mengalami cidera untuk terus berlomba. Bayangkan saja saat itu lomba tinggal menyisakan 20 meter lagi, dan tiba – tiba Ariana Luterman berhenti berlari dibelakang garis finish dan memutuskan untuk berbalik arah menghampiri Chandker dibelakangnya dan memapah rivalnya itu untuk menjadi juara pertama.
Amazing…..kata yang meluncur dari mulut saya membayangkan peristiwa luar biasa itu, why..? disaat peradaban dunia begitu materialistis dan prestasi menjadi nilai segala – galanya, masih ada pribadi yang mau mengorbankan mimpinya - yang dia persiapkan dengan berlatih keras selama hidupnya - dan membiarkan orang lain untuk “merebut” mahkota juara. Itulah sebuah kompetisi yang menjunjung tinggi nilai human relationship diatas gelar dan piala.
Sejatinya kompetisi tidak hanya berlaku di dunia olahraga, di dunia bisnis pun kompetisi ini menjadi momok bagi para pengusaha. Seperti persaingan produk yang kompetitif, berebut pasar, dan mempertahankan pelanggan, itu menjadi diskusi setiap hari bagi para praktisi pemasaran, untuk putar otak mencari corporate action agar bisa menghadang agresifitas kompetitor yang semakin “menjengkelkan” yang menguras pikiran dan jiwa.
Agar semakin jelas diskusi kita kali ini, kita bahas dahulu ya, apa sih pengertian kompetitor dalam bisnis itu?. Kompetitor adalah orang atau perusahaan yang menghasilkan atau menjual produk atau jasa yang sama atau mirip dengan produk atau jasa yang kita tawarkan, baik bentuk maupun fungsi atau manfaatnya. Lebih lanjut kompetitor itu menurut para ahli ada 3, yaitu : kompetitor langsung contohnya Tokopedia vs Shopee, kompetitor tidak langsung misal sama – sama jual parfum tapi beda pemakaiannya, dan yang terakhir kompetitor pengganti misalnya McDonald’s dan Starbucks, awalnya mau makan Cheeseburger tapi mencium bau kopi jadi pilih Asian Dolce Latte dan Sandwich.
Sedang asyik – asyik nya milih menu - menu pavorit di Starlink, tiba – tiba udin nyeletuk “Bang kalo di Indonesia ada tidak ya orang seperti Ariana?” Sambil garuk – garuk kepala saya menjawab “ mudah – mudahan tahun depan din.” Tahun depan, maksudnya apa bang?” Iya .. tahun depan kan pileg, barangkali aja ada caleg yang menang terus mundur ikhlas mempersilakan caleg yang kalah untuk mengantikan dirinya ke Senayan” mendengar jawaban saya, Udin langsung membayar kopi Starling -Starbuck Keliling - pesanannya, dan ngeloyor pergi sambil berkata “ngimpi kali…….”.
Comments
Post a Comment