Masih ingat tidak pejabat yang masuk got gorong – gorong air, aksi nyetir mobil buatan lokal anak – anak SMK dan sidak ke kelurahan pagi – pagi buta. Aksi luar biasa ini jadi viral dan terkenal loh ke seluruh penjuru negeri, dan bahkan langsung mendapat respon positif dan gelar mentereng sebagai tokoh yang low profile, sederhana, merakyat, dan pejabat yang anti protokoler “keningratan” yang mampu ‘membius” rakyat Indonesia bahwa ia adalah pemimpin masa depan bangsa.
Bagi pejabat rendah atau “kasta biasa -biasa”, aksi seperti nyebur got, peduli dengan sampah ditrotoar dan masuk kantor pagi – pagi buta, itu sesuatu yang tidak aneh dan biasa bagi staf kelurahan dimana saya berada, bahkan kalo ada staf kelurahan yang enggak respon dengan hal – hal beginian bisa jadi bahaya, karena selain jadi omongan warga, juga bisa bahaya buat karir dan masa depan dapur keluarga.
Jadi berbanding terbaliknya respon dari aksi – aksi diatas, itu tegantung siapa pelakunya dan tujuan atau misi yang mau dibawa. Bagi staf biasa aksi – aksi diatas itu tuntutan kerja tetapi kalo pejabat tinggi atau pemimpin daerah apalagi kalo pas musim pilkada wah itu udah pasti ada maunya hehehe.
Tujuan “ada maunya” ini, dengan cara “mempersolek diri” dan mempublikasikannya dimedia itu ada ilmunya, dalam ilmu marketing Bahasa kerennya Personal Branding yaitu ilmu bagaimana cara membangun persepsi seseorang terhadap apa yang kita tampilkan untuk saat ini atau masa depan entah itu kesan professional, keren, sederhana atau berwibawa. Sederhananya ilmu ini untuk menunjukan diri kita ke orang lain supaya orang bersimpati atau suka kepada kita. Walaupun kadang saya sering memplesetkan ilmu ini dengan istilah “ilmu pelet” tapi tanpa bumbu – bumbu ilmu sihirnya loh ya.
Nah pembahasan kita kali ini, apakah pencitraan dan personal branding itu sama ?, jawabnya ya tentu beda, pencitraan umumnya digunakan dengan tujuan negatif, yaitu untuk menutupi kekurangan atau melebih-lebihkan apa yang dimiliki seseorang. Sementara itu, personal branding adalah tindakan positif tentang bagaimana memunculkan keunikan, hasil karya, dan kompetensi yang dimiliki oleh diri kita,
Personal branding adalah bagian strategy pemasaran, perluasan branding yang dulu hanya terbatas pada penjualan produk dan jasa telah berkembang pada penjualan value figure seseorang. Pertanyaannya sekarang adalah apakah boleh menjalankan praktek – praktek personal branding ini bagi para politikus kita?, jawabnya ya boleh - boleh saja namanya juga jualan, tetapi tentu ada role of the game yang harus dipegang, yaitu apa yang dipublikasikan harus sesuai dengan realitas karakter individunya. Simpelnya ya kejujuran harus diatas segala – galanya, apa kata dunia sudah promosi kecap manis no 1 di dunia tetapi setelah dibeli dan dimakan rasanya beda.
Sebagai politikus yang nantinya akan mengemban amanah kepemimpinan nasional dan dunia, mempublikasikan diri dengan personal branding haruslah menjunjung tinggi nilai moral dan kejujuran. Janganlah menipu diri sendiri apalagi menipu orang awam itu dosa, karena ingat juga loh ya segala perbuatan, tingkah laku, dan janji bukan hanya malaikat yang mencatat, karena di era digital setiap tingkah laku publikasi seseorang akan terekam di dunia maya dan masyarakat akan dengan mudah menelusuri jejak digital mereka.
Ayo coba tebak siapa pejabat atau politikus yang suka tebar – tebar pesona dan janji – janji dusta ?
siapa ya?.. hehehe
Comments
Post a Comment