Baru saja menyandarkan tubuh di kursi kantor, “Kriiing…kriiing….’ Tiba – tiba terdengar suara telp dimeja saya. ‘Ram came to my table..!’ perintah bill di ujung pesawat telp. ’Yes..’ jawab saya singkat. Waktu masih menunjukkan jam 7.25 Wib belum jam kantor tapi si Bule udah iseng banget ‘calling - calling’. ‘Ade ape lagi sih nih bule atu, kemarin baru juga ngerjain gue, karena dia gue olahraga turun tangga 40 lantai’. Grutu saya sambil jalan menuju ruangan Bill di ujung sana.
‘Ram..you must trip to makassar tomorrow..!’ Perintah bill sambil menatap wajah saya serius. ‘Ono opo toh bill ko ya dadakan gene..?’ ‘what..?’ teriak Bill sambil melotot mendengar bahasa aneh meluncur dari mulut saya. ‘Ups sorry..I mean, why I should trip to makassar very immediately’ answer saya sambil cengegesan menahan tawa karena tadi menjawab pertanyaan Bill dengan dialek ‘jawa’,ini gara - gara pikiran saya masih tertuju ke bungkusan ketoprak sarapan pagi yang tertinggal di meja tempat mas Jono biasa jualan di kantin bawah.
‘Mr. Smith will go to Makassar next week, he wants to see weighted distribution produk in Makassar’ Jelas Bill Sambil matanya tertuju ke layar laptop. ‘You must prepare display all type outlet in traditional and modern market’ Intruksi Bill.
Urusan keliling daerah menjadi part of my jobs, boleh dibilang dalam 1 bulan, 1 pekan atau lebih saya ada diluar Jakarta. Selain melihat dan mengontrol kinerja team di daerah, saya meeting koordinasi untuk mendapatkan input dan ‘kasih’ problem solving apa yang menjadi kendala di area, intinya sih membangun ikatan emosional yang baik kepada ‘direct report under saya’, kadang dengan bertemu langsung lebih memiliki makna psikologis yang efektif ketimbang diskusi melalui telp, email atau wa.
Setiap kali keliling kota ke daerah ingatan ini kembali kepada memory lama, mengenang perjuangan para qiyadah yang keliling ‘jaulah’ ke pelosok negeri untuk berdakwah, mereka berjuang dengan ikhlas tanpa pamrih, tanpa digaji, berhari - hari mereka pergi untuk bertemu dan berdialog dengan saudara – saudara seperjuangan di jalan dakwah.
Dahulu ketika saya masih kuliah di ujung Jawa Timur sana, sering sekali saya bertemu dengan para qiyadah, mereka datang dengan wajah ikhlas dan bersahaja. Mereka datang tidak membawa harta emas intan berlian atau uang berlimpah, ‘oleh – oleh’ yang mereka bawa ‘hanyalah’ nasehat yang tulus penuh dengan hikmah, nasehat yang selalu ‘mencharge’ hati dan iman ini dikala saat lemah. Mereka menanyakan qodhoya (masalah) dakwah, keluarga atau kuliah. Mereka seperti kakak kandung kami sendiri yang relung hati di dadanya penuh rasa rindu -karena sudah lama tidak bertemu- dengan ‘adik – adiknya’.
Melayang- layang lamunan hati ini menelusuri Lorong waktu yang telah berlalu. Masih kuingat dan terbayang senyum Ust Hilmi yang penuh wibawa ketika pertama kali berjumpa di Surabaya, masih kuingat tatapan penuh makna dan ‘candaan’Ust Rahmat Abdullah saat menyampaikan materi tentang ukhuwah, masih tergiang – giang irama bacaan Quran Ust Ahzami ketika mengimami qiyamul lail berjamaah’membacakan ayat - ayat tentang perihnya azab - azab neraka, ya Allah..ya Robbi…Tak terasa meleleh air mata ini mengenang akhlak mereka. ‘duh.. seandainya mereka masih ada ingin kupeluk mereka dan menangis sejadi – jadinya menumpahkan gundah – gulana hati ini, seperti mengadu dan menangis dipangkuan ibunda tercinta ’. Dengan khusyu’ dan penuh harap, kuangkat tangan dan menegadahkan kepala ke langit dengan diiringi lantunan doa – doa ‘ Ya Allah..Ya..Robbi.. pemilik jiwa – jiwa yang lemah, ampunilah dosa – dosa mereka, berikanlah cahaya dan kebaikan kubur kepada mereka. Sayangilah mereka ya Allah.. seperti mereka menyayangi kami‘adik-adik’ yang masih ‘tersisa’ yang sedang berjuang dari ‘godaan’ akan indahnya dunia.’
“Tuk Para pejuang.. tetap ingatlah murobbi dan qiyadah kita, ingatlah jasa mereka, ucapkan doa dan kebaikan untuk mereka dan keluarga. “Entah apa jadinya kita sekarang ini, seandainya kita dahulu tidak bertemu berjumpa dengan mereka….”Huhuhuhu
Ciracas Jakarta, Mei 2023
Terimakasih tulisannya
ReplyDelete